Artikel Pilihan

loading...

(Bukan) Pengorbanan Ayah

On 9:23:00 PM with No comments

loading...
loading...

Ini mungkin yang membuat Amat dan Iway tak surut menghadapi kerasnya hidup.
Dream - " Mat, ingat.. Bapak ini orang nggak punya. Amat nggak punya ibu. Mumpung Bapak masih ada, Amat sekolah yang rajin."
Pesan pilu terlontar dari bibir Irwahyuddin atau Iway kepada anak sematawayangnya, Muhammad Irawan atau yang biasa disapa Amat. Pesan yang bukan tanpa alasan itu menjadi santapan Amat setiap pagi, saat diantar sekolah oleh sang ayah.
Bocah 11 tahun itu bukan cuma diantar-jemput menumpang kendaraan roda tiga yang bising itu, tapi juga sekaligus tinggal di sana. Iya, bermukim di bajaj. Amat dan Iway menjadi penghuni tetap bajajnya selama 11 tahun. Benda beroda yang berpindah tempat setiap saat itu dijadikan rumah bagi mereka.
Bajaj bertuliskan `Anggrek` itu menjadi rumah tinggal bagi Amat dan Iway. Bukan bangunan beratapkan genteng yang memiliki teras, pekarangan, kamar mandi, kamar tidur, dapur dan ruang keluarga. Tapi bajaj.
Ini mungkin yang membuat Amat dan Iway tak surut menghadapi kerasnya hidup. Salah satu yang membuatnya tak gentar adalah bersekolah. Meski terlambat. Amat baru duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Empat tahun tertinggal dibanding teman-teman sekelasnya. Rasa malu itu mungkin sudah tak dikenal Amat. Getirnya menjalani kehidupan bersama sang ayah seperti meredam semua rasa malu.
Amat kecil tak mengenal Air Susu Ibu (ASI). Iway menggantinya dengan 'susu' buatan. " Kasih dot, isinya campuran air dan gula," kata Iway kepada Dream.co.id dengan nada bergetar.
Iway enggan mencarikan ibu tiri untuk Amat. Lantaran takut tak sayang dengan putranya. Haram pula bagi Iway menafkahi Amat dengan cara-cara menyimpang. Sebab ia percaya nafkah yang baik akan berdampak baik pula pada nasib anaknya. Keyakinan ini yang membuat Iway tak patah semangat. Mengumpulkan rupiah demi rupiah lewat bajaj tuanya.
Kerasnya ibukota bisa saja mengubah seseorang untuk mengambil jalan pintas. Menghalalkan segala cara. Tapi tidak bagi Iway. Dia tetap tabah, menghidupi sang anak dengan bajajnya.
" Kalau Amat nggak sekolah ntar nggak bisa nulis, berhitung, ntar gampang dibodohin orang," kata Iway menasihati Amat saat dijumpai Dream.co.id di sekitaran Pasar Besi, Johar Baru, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu.
***
Kisah kesabaran dan pengorbanan Iway sebagai seorang ayah patut diacungi jempol. Tapi Iway bukan satu-satunya sosok ayah hebat. Di belahan bumi lain, tepatnya di Tiongkok, ada sosok ayah yang tak kalah inspiratif.
Adalah Yu Xukang. Pria yang hampir berusia setengah abad itu rela melakukan apapun untuk memberikan anaknya yang cacat kesempatan hidup lebih baik.

Sejak ditinggal sang istri–saat sang anak baru berusia 3 tahun, Yu memutuskan merawat buah hatinya sendiri. Saban hari, dia menggendong sang anak yang lumpuh ke sekolah. Dia mempersiapkan segala keperluan sang anak.
Dia mau anaknya, Xiao Qiang tetap bersekolah dan mendapat pendidikan. Yu ingin Xiao bisa menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

Perjuangan Yu demi Xiao tidak bisa dibilang ringan. Terlebih ia juga harus mencari nafkah sekaligus mengambil alih pekerjaan rumah tangga. Tapi semua kelelahannya seolah sirna tatkala membayangkan sang anak kelak hidup sukses.
Xiao pun paham betul bagaimana sang ayah berjuang keras demi dirinya. Sebab itu, bocah 12 tahun tersebut tak ingin membuat ayahnya kecewa. Dia pun giat belajar demi membuat Yu bangga.
Hasilnya tak sia-sia. Meski menyandang disabilitas, Xiao mampu meraih sejumlah prestasi di sekolah.
" Saya bangga pada fakta dia berada di ranking teratas di kelas dan saya yakin dia akan terus berprestasi. Mimpi saya, dia terus bersekolah hingga perguruan tinggi," ucap Yu.
Irwahyuddin dan Yu Xukang telah membuktikan kebenaran ungkapan 'kasih orangtua sepanjang jalan'. Pengorbanan dan kesabaran mereka tak putus-putus meski harus menghadapi berbagai rintangan. Tak peduli lelah dan luka sendiri, asalkan sang anak bisa wujudkan mimpi. (Ism)

loading...
loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »