Artikel Pilihan

loading...

Najwa Shihab " Wanita Tidak Tidak Harus Behijab, Asal Hatinya Tetap Berhijab " Setuju ???

On 12:16:00 AM with 5 comments

loading...
loading...
post-feature-image

Salah satu komentar yang keluar pada tulisan dengan judul Mata Najwa Bukan Mata Biasa yaitu mempertanyakan cara memakai pakaian Mata Najwa, Najwa Shihab yg tidak berjilbab. Pertanyaan yang “wajar” mengingat dia merupakan putri dari seorang ulama ternama, pakar tafsir, bekas rektor sekaligus eks Menteri Agama Republik Indonesia jaman Soeharto, Prof. Dr. Quraisy Shihab yang wajahnya sampai saat ini masih sering tampil beberapa di monitor kaca.

Memang benar, wanita kelahiran Makassar 16 september 1977 ini hidup dalam lingkungan keluarga yang religius. Najwa meniti pendidikan dasarnya di instansi pendidikan berbasiskan agama, dari mulai TK Al-Quran di Makassar, selanjutnya Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (satu tingkat SD), lalu SMP Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Pendidikan keagamaan juga diaplikasikan secara ketat oleh keluarganya bersama-sama lima orang saudaranya. Sudah menjadi kebiasaan, sejak magrib harus telah dirumah untuk berjamaah magrib, mengaji Al-Quran, serta membaca Ratibul Haddad bersama-sama. Baru sesudah masuk bangku kuliah, Najwa sudah diperbolehkan keluar setelah maghrib lantaran padatnya jadwal serta aktivitas perkuliahan. Itu karena keluarganya benar-benar sangat memperhatikan aspek pendidikan.

Pendekatan pendidikan di keluarganya tidak dengan memakai cara-cara menyakitkan hati tetapi melalui cara yang demokratis. Meski dididik dalam lingkungan yang religius, tetapi masalah memakai jilbab tak diwajibkan oleh orang tuanya.

Menurut dia wanita yang memakai jilbab itu bagus serta sangatlah terhormat, tetapi tak berjilbab juga tak apa-apa. Selama ini, ayahnya mendidik kalau yang lebih penting untuk wanita adalah menjadi terhormat serta menjaga kehormatan baik dalam berperilaku serta berpakaian, namun ayahnya tidak mewajibkan untuk berjilbab. Najwa juga miliki keyakinan kalau ada banyak cara untuk terhormat selain dengan jilbab.

 (berbagai referensi berkaitan) Dengan cara berpakaian seperti itu, katanya tidak pernah ada yang komplain. “Karena mungkin menyaksikan bapak, bila di tanya orang pendapatnya membolehkan, membebaskan berjilbab atau tidak. Jadi banyak alasan dari bapak saya. Bila ada yang komplain, paling pas bercanda. Dan saya senantiasa mengatakan : ya insyaallah semoga suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab kok.
loading...
loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

5 comments

HIJAB TIDAK MELIHAT STATUS

Hijab utk menutupi 'aurot wanita muslimah. Hijab atau juga disebut jilbab, bukan saja utk para ustadzah.
Hijab/ jilbab adalah pakaian wajib bagi segala lapisan masyarakat muslimah. Baik kalangan uztadzah, petani, pegawai, pelayan, kepala sekolah, wartawati, pedagang, bahkan pelacur. Semuanya bila beragama Islam, mk terkena kewajiban berjilab/ berhijab. Tidak ada muslimah yg bebas membuka 'aurotnya.
Di rumahpun muslimah wajib berjilbab jika di situ terdapat lelaki bukan mahramnya, mengingat rumah modern kini tidak lagi sbgmn rumah masa kuno yg tertutup dan hanya pria yang mahram saja berada di dalamnya.

Terlepas dari soal pakaian hijab/ jilbab, bila muslimah terbukti mencuri, berbohong, berzina, memanipulasi, berbuat nista dan semisalnya, bukan sikap yg bijak apabila Hijab/jilbab yg sedang dikenakannya menjadi sasaran kesalahan. Hijab/jilbab adalah kewajiban utk dipakai, namun tidak mutlak berhubungan dg soal akhlaq pemakainya, tidak mutlak menjamin kebaikan pekertinya.
Hijab/jilbab tetap wajib dipakai sebagai bentuk ketaatan kod aturan Allah. Namun akhlaq juga harus mengiringinya utk selalu diupayakan perbaikannya. Perbaikan dilakukan dari segala sisi, dalam segala lini kehidupan muslim dan muslimah itu.

Perbaiki pola fikir yg salah. Menata hati agar tetap condong kpd Syari'ah. Semoga Allah berikan kita barokah.

HIJAB TIDAK MELIHAT STATUS

Hijab utk menutupi 'aurot wanita muslimah. Hijab atau juga disebut jilbab, bukan saja utk para ustadzah.
Hijab/ jilbab adalah pakaian wajib bagi segala lapisan masyarakat muslimah. Baik kalangan uztadzah, petani, pegawai, pelayan, kepala sekolah, wartawati, pedagang, bahkan pelacur. Semuanya bila beragama Islam, mk terkena kewajiban berjilab/ berhijab. Tidak ada muslimah yg bebas membuka 'aurotnya.
Di rumahpun muslimah wajib berjilbab jika di situ terdapat lelaki bukan mahramnya, mengingat rumah modern kini tidak lagi sbgmn rumah masa kuno yg tertutup dan hanya pria yang mahram saja berada di dalamnya.

Terlepas dari soal pakaian hijab/ jilbab, bila muslimah terbukti mencuri, berbohong, berzina, memanipulasi, berbuat nista dan semisalnya, bukan sikap yg bijak apabila Hijab/jilbab yg sedang dikenakannya menjadi sasaran kesalahan. Hijab/jilbab adalah kewajiban utk dipakai, namun tidak mutlak berhubungan dg soal akhlaq pemakainya, tidak mutlak menjamin kebaikan pekertinya.
Hijab/jilbab tetap wajib dipakai sebagai bentuk ketaatan kod aturan Allah. Namun akhlaq juga harus mengiringinya utk selalu diupayakan perbaikannya. Perbaikan dilakukan dari segala sisi, dalam segala lini kehidupan muslim dan muslimah itu.

Perbaiki pola fikir yg salah. Menata hati agar tetap condong kpd Syari'ah. Semoga Allah berikan kita barokah.

Jika gk pake jilbab silahkan itu hak anda
Tp kalo sudah ada aturannya jangan buat aturan sendiri

Berarti wanita tak harus pakai baju,asal hati nx yg pakai baju..sontoloyo,,udah jls ada bnyk dalil quran&hadis tnntng anjurn pake jilbab...

Hijab/jilbab itu wajib dari Sononya bahkan diperintahkan langsung kepada para suami dan bapak kepada putrinya. Katanya pintar,anak ulama pula. Mungkin hidayah Allah yg belum sampai,karna hidayah Allah gak memandang dia siapa & anak siapa.